Selamat Datang

Translate

Pengunjung

"Warung Pojok"

Pengikut

02 Juni 2010

Eksotisme ''Ngelawang'', Romantisme Usang

Ngelawang (dari kata lawang yang artinya pintu) adalah sebuah istilah dalam bahasa Bali yang berarti pertunjukan yang berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain, atau dari satu desa ke desa yang lain. Eksotisme tentang sebuah pentas seni komunal yang dulu dapat disimak dalam rangkaian hari suci Galungan, kini selalu mengundang romantisme. Pentas seni nomaden yang dikenal dengan ngelawang itu, di masa lalu, memang pernah mengkristal menjadi peristiwa kesenian yang mewarnai Galungan, bahkan tetap meriah hingga ritual Kuningan. Di tempat - tempat tertentu ngelawang juga diadakan apabila disuatu desa terjadi wabah penyakit.

Tetapi belakangan, pertunjukan
keliling yang mementaskan puspa ragam seni tradisi Bali itu telah digerus perubahan zaman. Seperti tampak Sekarang, begitu sulit memergoki sekaa-sekaa seni pertunjukan tampil penuh keintiman di tengah masyarakat. Ngelawang memiliki makna melanglang lingkungan. Pada awalnya ngelawang adalah sebuah ritus sakral magis yang disangga oleh psiko - religi yang kuat. Benda - benda keramat seperti Barong dan Rangda, misalnya, diusung ke luar pura berkeliling di lingkungan banjar atau desa yang dimaknai sebagai bentuk perlindungan secara niskala kepada seluruh masyarakat.

Kehadiran benda - benda yang disucikan itu ditunggu dan disongsong dengan takzim oleh komunitasnya. Penduduk yang dapat memungut bulu - bulu Barong atau Rangda yang tercecer,dengan penuh keyakinan, menjadikannya obat mujarab atau jimat bertuah.Tradisi ngelawang dalam konteks sakral magis sebagai persembahan penolak bala itu juga bermakna sama pada pentas ngelawang Galungan. Namun dalam perjalanannya, masyarakat Bali yang kreatif tak hanya ngelawang mengusung benda - benda sakral namun dibuat tiruannya untuk disajikan sebagai ngelawang tontonan.

Dalam tradisi ngelawang Galungan tersebut, bentuk-bentuk seni balih-balihan seperti Arja, Janger, atau Joged misalnya juga dapat disaksikan masyarakat sebagai hiburan. Masyarakat yang ha
us hiburan menstimulasi pentas ngelawang menjadi wahana berkesenian yang konstruktif dan apresiatif.Sebagai seni tontonan, ngelawang adalah suguhan seni pentas yang serius tetapi juga santai. 

Untuk mengapresiasinya penonton tidak harus duduk kaku, namun bisa jongkok, berdiri atau bergelayutan, bersentuhan dan bergesekan sembari menikmati alam bebas. Hampir tak ada jarak antara pelaku seni dengan penonton, semua lebur dan menyatu.Kehadiran seni pentas ini tidak terikat oleh tempat, ruang dan waktu. Pertunjukan tari topeng misalnya bisa terjadi di bawah pohon besar yang rindang, pementasan barong bisa digelar di tepi sungai, drama tari arja bisa hadir di jalan umum atau bahkan di tengah keramaian pasar. Ia bisa dijumpai pada sore atau malam hari dan mungkin juga di pagi hari.

Atmosfer pentas seni tontonan nan komunal kini telah sayup-sayup. Begitu pula ngelawang dalam konteks sakral - magis agaknya semakin redup. Pada tahun 1970-an, aura magis ngelawang itu masih berbinar. Rumah-rumah penduduk sekonyong-konyong didatangi misalnya oleh Barong Kedingkling. Figur-figur topeng yang bersumber dari cerita pewayangan Ramayana ini disongsong dengan antusias oleh seisi rumah.Diawali dengan sepotong tembang, misalnya tokoh punakawan Malen dan Merdah, lalu disusul tokoh Subali dan Sugriwa menari semenit dua menit di halaman merajan. Selesai.

Kendati singkat, umumnya masyarakat senang dan percaya aura ritual - magis yang dipancarkan ngelawang Galungan itu akan memberikan keselamatan dan perlindungan. Hasrat hidup damai dan terlindung dari segala bencana tersebut itulah kiranya yang menjadi akar ngelawang. Diduga, ngelawang berkiblat dari sebuah mitologi Hindu, Siwa Tatwa. Alkisah ketika Dewa Siwa dan Dewi Uma bercinta tidak pada tempat dan waktunya, harmoni terguncang. Akibatnya adalah kesengsaraan bagi umat manusia dan makhluk hidup yang lainnya. Sadar akan kekhilapannya itu, Dewa Siwa mengutus para dewa untuk menenangkan dan menenteramkan kembali seisi alam. Setiba di bumi, para dewa itu menciptakan dan mementaskanberagam bentuk kesenian. Lewat kasih pagelaran seni itu seisi jagat kembali damai. Makna ruwatan dalam mitologi Siwa Tatwa tersebut juga senapas dengan kandungan tolak bala dalam legenda hancurnya keangkaramurkaan Mayadanawa yang kemudian disyukuri atau jadi pijakan awal Galungan, perayaan kemenangan dharma atas adharma. 

Ngelawang sebagai energi budaya yang memiliki aspek spiritual, seni dan hiburan ini, sayang, kini terkoyak, tersudut sebagai romantisme usang. Fenomena kehidupan transformatif ini tak bisa dimungkiri memang membawa konsekuensi multidimensional dalam berbagai aspek. Atmosfir masyarakat agraris tradisional dengan kekentalan psiko-religiusnya mungkin memang kontekstual dengan persemaian yang kondusif bagi eksisnya tradisi ngelawang pada masa lalu.Sementara kini di tengah dinamika dan konfrontasi nilai-nilai, pola pikir rasional dan perilaku pragmatis-sekuler yang membubung naik daun, semakin dipuja jadi status dan gengsi. Pamor tradisi ngelawang dalam esensi seni dan terutama substansi makna ritual magis yang dikandungnya bisa jadi telah terkikis, kehilangan konteks. Masyarakat pendukungnya sedang diguncang deru modernitas dan riuhnya lobalisasi.

Ada kecenderungan makna-makna sakral-magis-simbolik sedang tergerus. Sebaliknya materialisme hedonistis sedang berembus kencang mereduksi tatanan kehidupan. Karena itu, masuk akal - kendati memilukan - bila seni pentas ngelawang terjengkang, kehilangan fungsi dan makna,linglung di persimpangan jalan dalam kegalauan masyarakat pendukungnya yang sedang bimbang di persimpangan zaman.

www.parisada.org

Komentar :

ada 0 komentar ke “ Eksotisme ''Ngelawang'', Romantisme Usang ”

Posting Komentar

Jalan Pintas

Mengenai Saya

Foto Saya
Terlahir dan belajar seni dipulau yang dikenal dengan seni dan pariwisata budaya,BALI

Serba Serbi Bali

 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Angga Leo Putra Modifications by endro
fixedbanner