Selamat Datang

Translate

Pengunjung

"Warung Pojok"

Pengikut

09 April 2011

I Nyoman Kakul ( Penari )

Kakul dalam bahasa Bali berarti keong, atau siput air. Kerap digunakan metafora gerakan serba lambat, loyo, malas. Makna ini sungguh berbeda dengan anak manusia asal Banjar Pekandelan, Desa Batuan, Gianyar, tahun 1905, yang kelak dinamai I Nyoman Kakul oleh orangtuanya, I Wayan Timtim (ayah) dan Ni Wayan Renti (ibu).

Manakala menari, energi Kakul mengalir begitu deras, penuh vitalitas, dan menjadi standar mutu pada zamannya. Bila ada penari baris mendapat komentar dari penonton, "Cara igel-igelan Baris Kakul,'' itu berarti sang penari sudah bagus, seenergik Kakul. Namun andai komentar yang diperoleh berbalik, "Tusing nyak cara igel-igelan Kakul,'' itu berarti sang penari kalah tanding, belum sedahsyat tarian Kakul. Itu menjadikan Kakul begitu mencorong di antara pragina Bali sezamannya, hingga menembus berbagai benua.


''Saya sudah Meriken, juga sudah berbincang-bincang dengan Tuan Tepis,'' ucapnya ketika suatu hari, tahun 1967, sekawanan mahasiswa dari ASTI Denpasar beserta mahasiswa Jurusan Antropologi dan Fakultas Teknik Universitas Udayana, menemui sang maestro, di rumahnya. Yang dimaksud Kakul dengan Meriken adalah Negeri Paman Sam, Amerika, sedangkan Tuan Tepis maksudnya tiada lain Walter Spies, pelukis sekaligus impresario seni semasa kolonial Belanda.

Tahun 1933 Kakul memang sudah memukau penikmat seni di Perancis dan Belanda. Dua dasawarsa berselang bersama sekaa Legong Peliatan, Gianyar, dia pentas di Amerika Serikat, Jerman Barat, Paris, London, dan Kanada. Pernah juga tiga bulan dia berkelebat-kelebat dari Cekoslowakia, Belanda, India, hingga ke Rusia bersama sekaa Legong Bedulu yang berkarib dengan Walter Spies. Tahun 1970, bersama Prof. Dr. IB Mantra, semasa menjadi Dirjen Kebudyaan, Kakul kembali diajak melawat ke Jerman Barat.

Pendakian Kakul di jagat seni bermula dari keterpikatannya ikut nglawang (pentas keliling) pada umur belasan tahun bersama sekaa Barong Bangkal di desanya. Dari sini mpu tari I Dewa Ketut Gedit lantas mendidik remaja Kakul menari Gandrung, lalu Arja Telu (dimainkan tiga penari). Tak puas sampai di sana, Kakul lantas suntuk belajar tari Baris. Hanya dalam waktu kurang dari sebulan dia sudah bisa menguasai sempurna tari Baris hingga menjadi acuan mutu.

Dari mahaguru tari Anak Agung Gede Pajenengan, asal Sukawati, Kakul menimba ilmu tari Jauk, Arsawijaya, topeng tua, hingga Calonarang. Pendakiannya kian memuncak manakala kelak belajar tari Gambuh, sampai kemudian mnjadi satu di antara mpu Gambuh. Manakala kini orang menyebut
Gambuh Batuan, sejatinyalah itu Gambuh warisan Kakul.

Ayah lima anak dari dua istri ini kelak memang melesat menjadi penari sekaligus mahaguru tari penuh dedikasi. Ketenaran nama mengantarkannya sebagai rakyat malah bisa menjadi guru tari di balik tembok puri yang dihuni kaum ningrat, keturunan raja. Maka, dia pun mengajar tari Baris di Puri Klungkung, Bangli, Karangasem, Gianyar, selain juga mengajar tari di desa-desa atau banjar-banjar, membentuk sekaa-sekaa sebunan. Tiada heran bila murid-murid I Nyoman Kakul kebanyakan berderet dengan gelar Cokorda, Anak Agung, I Dewa, dan Ida Bagus. Sebagian murid-muridnya di kalangan puri itu kelak menjadi petinggi di jajaran birokrasi pemerintahan, ada pula menjadi duta besar, seperti Mr. Ide Anak Agung Gde Agung dari Puri Gianyar.

Kakul juga ikut menjadi guru di Kokar (sejak berdiri 1961) dan ASTI (sejak berdiri 1967). Karena tidak bisa membaca dan menulis, Kakul kerap meminta bantuan para muridnya di sekolahan itu untuk membubuhkan cap jempol atau tanda tangan di lembar absen. Di lembaga seni sekolahan itu, Kakul yang mahaguru seni tar tradisi itu mengalirkan tari Gambuh, Parwa, Topeng, Barong, Baris, hingga Jauk. Di lembaga pendidikan seni itu dia tidak cuma melahirkan seniman bergelar sarjana, tapi juga master dan doktor hingga profesor. Namun di bilik lain, sang maestro, mahaguru Kakul, tetap saja hidup sederhana.

Ia tidak mereguk keuntungan materi dari seni tari, kecuali keharuman nama menjagat. Untuk menghidupi keluarga, dia kerap mendapat upah justru dari jasa memanjat pohon kelapa, atau menjual daun sirih. Daun sirih itu didapat dengan membeli hingga ke Tegallalang yang berjarak 25 km dari desanya, lalu dijual ke Denpasar yang berjarak sekitar 15 km dari desanya. Semua ditempuh dengan berjalan kaki.

Di kesempatan lain ada kalanya dia menjual kayu bakar, minyak kelapa, beras dan lain-lain. Sesekali sang maestro juga menerima upah dari jasa mendorong gerobak. Hikmah derita hidup itu bagi Kakul memang bermakna lain: di tetap menjadi manusia sederhana, rendah hati, apa adanya, tidak sombong. Dia tetap menjejak bumi meskipun namanya menjulang melambung, mencorong cemerlang.

Sikap hidup sahaja, apa adanya itu pula menuntun dia memperlakukan semua muridnya sama saja, tanpa membedakan derajat harta maupun kasta. Manakala mengajar dia tetap galak, tegas. Tak segan dia ninjak punggung atau betis murid sang murid yang dinilai kaku, kalah lentur dengan pohon kelapa, lau memijat-mijat sekujur tubuh sang murid agar lemas, lentur.

Pola ajar itu pula dia terapkan kepada anak-anaknya di rumah. Kakul memang pantas menjadi teladan bagus, bagaimana menjaga alir tradisi seni agar terus ajeg, melewati batas generasi. Ia berprinsip: supaya alir seni itu terjaga sepajang generasi, jalan awal mesti ditempuh adalah menyiapkan secara matang anak-anak dan keluarga sendiri sebagai pelanjut. Bersamaan dengan itu dia letih dan bentuk pula sekaa di kampung kelahirannya. Dengan begitu setidaknya dia sudah menyiapkan dua lapis pertahanan buat menjaga kelangsungan alir tradisi seni yang ditekuni.

Kesadaran itulah menyebabkan kini Gambuh dan tari-tari lain yang dikuasai Kakul tetap berdenyut di Batuan dalam napas sekaa sebunan. Di lingkup keluarganya Kakul mengalirkan kepiawaiannya kepada I Wayan Kantor, putra bungsunya. Kantor kelak menjadi generasi penerus tradisi tari di tanah natah palekadan Kakul. Kantor pula belakangan membentuk Sanggar Tari Nyoman Kakul di rumahnya, bersama anak-anaknya, selain memimpin sekaa Gambuh Mayasari milik desa, yang dibentuk semasa Kakul hidup. Sanggar Tari Nyoman Kakul dibentuk tahun 1983, setahun setelah Kakul meninggal, karena rajaman sakit lumpuh yang dideritanya sejak 1975.

Dengan taktik dan strategi demikian Kakul, sejatinya, telah menumbuhkan akar bagi kekokohan kehidupan tari Bali. Tiada heran bila alir bening Gambuh di Desa Batuan kini sudah bisa menembus hingga ke generasi cucu Kakul, bahkan juga sudah siap-siap disalin generasi kumpi, cicit.
www.balipost.co.id

Komentar :

ada 1
siti zulaiha mengatakan...
pada hari 

Makanananya enak, selain di Bali masih bisa gak sih k kita makanan tersebut.
Terimakasih artikelnya kak..

Posting Komentar

Jalan Pintas

Mengenai Saya

Foto Saya
Terlahir dan belajar seni dipulau yang dikenal dengan seni dan pariwisata budaya,BALI

Serba Serbi Bali

 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Angga Leo Putra Modifications by endro
fixedbanner